Kamis, 03 Maret 2011

di Ruang Dahlia

"mbak, sebenarnya ibuk pengen banget bisa nganterin mbak sampai kuliah, menikah, punya cucu.. Tapi rasanya kok ngak mungkin. Sekarang ibuk sakit.. ibuk sebenarnya pengen sembuh, tapi kok ibuk merasa putus asa.."
Kalimat ibukku saat dia sakit dulu.. Perasaannya yang merasa ngak mungkin untuk sembuh,, untuk hidup ternyata benar tidak mungkin. Kenyataan yang memang harus terjadi. 

Saat detik-detik terakhir beliau meninggal, waktu itu ada di RSUD GENTENG WETAN Paviliun Rengganis Ruang Dahlia. Sebelum ibu drop, menit-menit saat ibuku setengah sadar, satu kalimat yang keluar dari bibirnya untukku, "tidak apa-apa". Apa maksudnya ? belum sempat aku tanya, ibu sudah ngak sadar, setelah sebelumnya dia sempat meminta mukena untuk sholat.
Kalau ingat gerakan sholatnya waktu itu, sambil berbaring kulihat tangan-tangannya dengan sekuat tenaga diangkat dan disandarkan diperutnya.  Sholat isyak yang seharusnya 4 rakaat  hanya mampu ia kerjakan 2 rakaat saja. Mungkin saja saat itu pikirannya sudah tidak bisa lagi mengingat berapa rakaat yang harus dia kerjakan. Atau mungkin saja tangan-tangannya sudah tidak kuat diangkat untuk rakaat-rakaat selanjutnya.Ibuk, saat tubuhmu lemah kau masih ingat dan ingin sholat.
Setelah sholat ia kerjakan, ibu sudah tidak bisa lagi merespon orang-orang disekitarnya saat itu. Matanya masih terbuka, semua memintanya untuk bicara tapi tidak bisa. Tapi saat aku membisikkan kata Allah di telinganya, ibu menirukan kata yang aku sebutkan tersebut. Allah, mungkin hanya Dirimu yang mampu diingat saat itu.
Beberapa jam kemudian, dia tertidur. Saat itu matanya sudah tak dapat lagi dibuka. Tertidur selama 4 hari. Selama 4 hari pula yang hanya dilakukannya hanya bernafas. Matanya terbuka hanya saat tertentu saja.Beberapa selang menempel ditubuhnya.. aku masih percaya diakan terbangun lagi dan sehat seperti sebelumnya. Menjalani hidup dan menemani masa depan ku.. lewat selang-selang itu, aku berharap keaajaibanNya akan segera terwujud. Aku selalu berharap keajaiban akan datang, meskipun saat itu banyak yang sudah berputus asa akan kesembuhan ibuku. Aku tetap berharap..
Namun semuanya berakhir menjadi sebuah harapan yang tidak terwujud,, Kamis, Malam Jum’at pukul 20.15, kenyataan ini datang.. kaki ibuku terasa sangat dingin wajahnya terlihat cerah dan lebih cantik dari biasanya, semua orang panik.  Sampai kemudian harus kuterima perawat-perawat rumah sakit melepas satu persatu selang yang menempel pada tubuh ibu. Dan menutup tubuh ibuku dengan kain.. ibuku meninggal..innalillahi wainnailai roji’un..

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar